Pengajian Unsoed

Ballighuu `annii wa lau aayah - “sampaikan walaupun hanya satu ayat”

ads

MUHASABAH AKHIR

MUHASABAH AKHIR
(Sebuah Refleksi Untuk Aksi)
Oleh: Syamsudin Kadir
Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Bandung

Januari 2007, sebuah mukadimah amanah baru dimulai: menjadi Pengurus KAMMI Daerah Bandung 2006–2008. Banyak fenomena yang terjadi. Banyak tantangan yang dihadapi. Banyak amal yang mesti dituntaskan. Banyak kejadian dan peristiwa yang dilalui. Ada derita, sedih dan air mata. Ada sapa, canda, dan sendagurau. Ada senyum, salam dan kehangatan. Ada ruang rindu untuk terus berjuang, ada ruang ukhuwah (persaudaraan) yang mesti dikuatkan. Semuanya ada dan lengkap dengan keunikannya.
Singkat cerita, cetak biru perjuangan telah tercipta. Subhanallah, demikian indahnya bersama dan menyatu dalam ruang perjuangan dakwah dengan cita-cita ideal pergerakannya. Melingkup lengkap seluruh jenis ruang kajian di masyarakat; mulai dari kebijakan publik, pengabdian kepada masyarakat, ke-media-an, dan pola pencetakan kader organisasi dan organisasi kader. Itulah ruang cita-cita, itulah mimpi: idealis, perspektif dan normatif.
Tapi bagaimana kenyataannya? Kenyataan selalu berkata jujur. Kerja sederhana sampai hasil hanya sekedar. Berkontribusi picik hingga tak menuai hasil. Iya, begitulah jiwa itu menorehkan sejarah perannya. Demikianlah tangan-tangan kaku itu meraba amanah dakwah. ’Ini adalah amanah besar’, kata sebagian orang. Iya begitulah semestinya dan begitulah seharusnya. Tapi, di manakah keharusan itu selama ini? Di manakah singgahnya keniscayaan itu dalam ruang kenyataan?
Kini, amanah itu berakhir dan memang setiap peran pasti pergi dan dipergilirkan. Kini, kerja-kerja sederhana itu hanya tinggal kenangan. Jiwa-jiwa pejuang yang penuh semangat dalam belajar beramalpun ditinggal pergi. Ya, pengurus baru dan kader-kader KAMMI Daerah Bandung kini menyusun cerita, pergantian kepengurusan: Mengakhiri pertemuan, menanti perpisahan.
Malu dan seharusnya malu. Karena memang berkontribusi tapi dengan hasil memalukan. Aktivitas hanya menghabiskan tenaga dan waktu. Amanah belum ditunaikan secara maksimal. Ide-ide hanya diendap di ruang pikiran bahkan juga hanya angan-angan. Hingga pekikan takbir tinggal suara merdu. Ibarat beduk bertalu tak berujung dengan pesan bermakna. Pengorbanan yang diberikan tak luput dari virus kepalsuan tanpa energi; semacam krisis keikhlasan hati dan kering kerendahan diri.
Banyak tertawa tanpa mau menyadari sang maut sedang mengintai. Cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata itu hanya tergesa-gesa agar bisa segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Robbnya. Datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Datang ke ruang tarbawi hanya karena sistem bukan karena rindu akan impian dan hasil jangka panjang. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu; karena dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. ”Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah yang menimpa diri”, kata seorang ustadz mengingatkan. Output pengkaderan seharusnya bisa membawa diri dan banyak orang ke ruang takwa, tapi justru riya’ dan sombong dipakai menjadi baju dan simbol diri.
Mudah terpesona dengan sanjungan, ”engkau yang pandai bercakap, pintar memenej organisasi, ramah, banyak jaringan, punya konsep jitu, punya kekuatan ruhiyah semacam kekuatan keheningan senyap di tingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shoum atau kedalaman munajat dalam raka’at-raka’at panjang sampai berjuz-juz ayat yang dibaca dan dihafal”. Tersanjung dengan licinnya lidah bertutur, sementara dalam hati tak ada apa-apa. Mengunyah mitos pemberian dan penghargaan serta sangka baik orang-orang berhati jernih; bahwa diri ”sholeh, ’alim, ’aabid, apik terus semangat dan cerdas”. Lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri dan tunduk diri dalam bermunajat memohon ampun kepada yang memiliki kekuatan dan yang wajar sombong; Allah Yang Maha Besar. Apakah tidak takut dan tahu diri, dengan begitu bergelimangnya jiwa dan raga oleh dosa kepada Allah, khilaf kepada sesama serta khianat terhadap amanah?
As Shiddiq, Abu Bakar ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih. Sebagaimana juga kerendahan diri Umar bin Abdul Aziz ra. yang takut mengkhianati amanahnya sebagai pemimpin tertinggi umat pada zamannya. Tapi, apakah semua itu menjadi tauladan yang kemudian diikuti? Atau hanya sekedar dijadikan doktrin yang tidak karuan dalam ruang pengkaderan? Masih senang dipuji, tapi murka jika dicuekin. Bangga mendapatkan amanah besar, tapi kerdil dalam beramal. Lalu, beginikah potret aktivis yang memimpikan perubahan umat dan merindukan nikmatnya surga?
Bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak hal, lalu lupa dengan hal lain yang juga penting dan bahkan lebih utama. Mengaku beramal besar dan banyak beramal kemudian selalu mengingat-ingatnya, bahkan menyebut-nyebutnya. Padahal beramal kecil dan sedikit beramal kemudian dilaksanakan dengan krisis keikhlasan. Tapi justru dengan itu menjadi angkuh dan mengklaim kontribusinya sangat banyak dan besar. Sering menyalahkan bahkan mencurigai orang yang banyak beramal dan beramal besar dengan keteguhan dan keikhlasan. Bukan karena apa-apa, tapi karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal dengan lamunan pribadi, atau tidak mau kalah dan tertinggal untuk pamer diri di hadapan para pejuang yang memang benar-benar tulus dan ikhlas beramal. Begitulah fenomena menukar kerja dengan kata, sikap dan tabia’t busuk. Lalu, di manakah nilai dan ruh ikrar ’jika hanya ada satu orang yang berjihad di jalan Allah, maka itu adalah aku’ itu diletakkan?
Saat kecil atau jenjang awal, begitu takut gelapnya dosa dan syubhat serta segala yang asing. Begitu kerap bergetar dan takut berpakaian ’kemunafikan’ dan ’kesombongan.’ Hafalan ayat masih utuh dalam lantuan tilawah maupun tausiyah dan qiyamul lail. Bahkan bermuamalah dengan lawan jenis masih terjaga dengan baik, sebagaimana diajarkan di shof-shof tarbawi dari beberapa tahun yang lalu. Namun, sesudah ilmu dan pengalaman makin bertambah serta amanah dibebankan di pundak, karakter dan kekhasanpun berubah. Berani tampil di depan banyak orang termasuk memamerkan simbol tanpa rasa gentar dan malu. Tak mampu menggetarkan hati bahkan justru membuat yang mendengar tidak mampu menata dunia dengan iman dan mencintai kematian dengan impian kesyahidan. Semua sudah jadi basa-basi, tanpa rasa. Tanpa tau diri. Tanpa ruh. Keaslian dakwah islam dimanipulasi dengan wajah-wajah garang penuh kepalsuan.
Telah berapa lama hidup dalam lumpur yang membunuh hati sehingga getarannya tak terasa lagi saat dunia menggoda diri dan kemudian menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu raka’atpun qiyamul lail yang dikerjakan. Adapun dikerjakan hanya karena target dan takut dievaluasi di ruang tarbawi. Dari siang ke siang hanya dilalui dengan sendagurau yang berlebihan dan agenda-agenda yang mematikan hati serta menjerumuskan jiwa dan raga ke dalam lembah kenestapaan. Usia tarbawi semakin berlanjut tanpa jenjang kedewasaan komitmen kuat, ketaatan meninggi, ruhiyah yang kental dan iman menghujam. Lalu, di mana diri dan jiwa itu menguburkan rasa malu dan takut kepada Allah?
Apakah diri dan jiwa itu sudah mulai berfikir “biasa saja, bila main mata dengan aktifis lawan jenis di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh atau SMS dengan kata-kata yang mendatangkan syahwat maksiat?” Apakah sudah mulai berfikir ‘asal jangan bershahwat ketika dengan bangganya tidak menjaga dan menundukkan pandangan?’ Setiap keletihan, kelelahan bahkan kerumitan memang merupakan beban yang memberatkan. Karenanya perlu ada selingan yang meringankan tapi bukan humor, sendagurau dan canda yang mengeraskan hati, yang menambah nestapanya jiwa yang kering. Sungguh bijak isi tausiyah seorang kader KAMMI Bandung pada buku komunikasi kader dan kepengurusan berikut ini: “yang dibutuhkan adalah humor-humor yang mengingatkan kita mengenai awal dan akhir kehidupan, mengenai kuburan dan mengenai akhirat. Sendagurau yang menyentuh hati gersang yang butuh
siraman, canda yang menguatkan keteguhan yang mulai terseok-seok keangkuhan”.
Kini, betapa mudahnya percaya kepada gosip yang mengarah kepada fitnah kepada saudara seiman dan seaktivis. Sungguh merisaukan. Menghukum tanpa lasan yang jelas. Percaya kepada pernyataan-pernyataan yang belum jelas kebenarannya. Mengumbar materi fitnah ke mana-mana, di mana-mana dan dengan siapa-siapa. Semuanya dilalui tanpa klarifikasi. Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam aktivitas harian. ’Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”? Saat diri dan jiwa itu muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan (banci) atau perempuan berpakian laki-laki (banci), karena ketika itu sangat mendukung ustadz yang mengatakan ’jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki’, apakah tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?’ ’Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu
urusan tinggallah dengan diri semata. Bukankah di manapun makhluk berada, Allah tetap ada dan menyaksikan?’
Sekarang merasa diri telah jadi kader dan orang hebat. Berada pada jenjang tertentu, punya amanah strategis, entah di manalah. Ada di wajihah anu, di kampus anu, di struktur anu. Tidak lagi malu-malu tampil atas amanah dakwah di depan yang lain, padahal kebobrokan diri lebih busuk dari apa yang dikeluarkan dari kotoran yang setiap hari dikeluarkan dari perut pada sebuah WC masjid. ”Apa yang disombongkan jika mendapatkan amanah berdasarkan retorika dan kepalsuan simbol dan pengakuan lisan tanpa makna? Apa yang dibanggakan jika amanah diperoleh karena penilaian manusia dan belum tentu benar di pandangan Allah? Apa yang dibanggakan jika huruf hija’iyah dari ayat-ayat Al Qur’an yang dibaca tidak lebih nyaring daripada suara kerbau di kandang sang tukang sawah yang ikhlas membantu membajak sawah tuannya? Apa yang dikagumkan jika hafalan ayat ataupun surat tidak lebih dari Al Fatihah dan Al Ikhlas bahkan tidak lebih dari satu juz? Apa yang membuat ‘bergaya’ jika menghafal
beberapa surat bahkan juz, hanya ungkapan lisan, bukan pengahayatan hati atas apa yang dihafal? Apakah tidak iri dengan seorang Orientalis atau Zionis durjana yang ‘membenci Islam, Al Qur’an dan pembela keduanya, tapi mampu menghafal, menelaah bahkan menafsirkan Al Qur’an? Apakah tidak malu ketika mendapatkan amanah strategis di sarana amal atas nama dakwah padahal tidak sedikitpun inisiatif membuat jadwal untuk memahami Al Qur’an, As Sunnah dan Siroh Nabawiyah sebagai sumber dakwah yang sesungguhhya, yang mesti dipahami paling awal? Apakah tidak malu untuk berpenampilan ‘sok pahlawan’ dan bangga bertitel aktivis dakwah padahal tidak mampu menahan pandangan dari penglihatan lawan jenis yang bukan muhrim?” Betapa mudahnya menyusun pembelaan, ”sekarang zamannya dakwah terbuka, karenanya menjaga pandangan dan batasan dengan lawan jenis sudah bukan zamannya. Sekarang zamannya hidup bersama publik, karena itu cara berpakaian dan sikappun mesti mengikuti trend publik”.
Ironi dan sangat ironi. Hati yang berbunga-bunga di depan banyak orang. Semua gerak dan langkah harus ditakar dan jadilah pertimbangan keikhlasan tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang dimiliki. Begitu jauhnya keunggulan di kalangan awam umat dan rakyat banyak, sedikit banyak karena para ’tim inti umatnya’ telah melangkah lebih awal dalam lumuran riya’, cinta dunia dan takut mati. Betapa rusaknya dakwah islam jika ’du’atnya’ sudah mulai terseret lembah kenestapaan seperti ini.
Tidak berhenti di situ, pada saat yang sama melawan sistem dan struktur dengan ungkapan sok tau, sok aktivis tanpa tau diri dan melihat kondisi dan tempat; diungkap di sembarang tempat, di mana-mana dan dengan siapa-siapa. ‘Inikan organisasi anu, wajihah anu, saya punya sudut pandang sendiri; karena itu struktur tidak punya hubungan dengan saya’. Lalu, di manakah posisi ruang tarbawi yang membentuk kapasitas diri dan mengenalkan jiwa ringkih ruhiyah dan gersang iman itu untuk mengenal Allah dan memaknai kehidupan yang sesungguhnya selama ini? Inilah sosok rakyat yang sok pemimpin. Tong kosong, nyaring bunyinya. Apakah sudah berfikir ’semuanya mesti jadi panglima?’ Apakah tidak perlu belajar menjadi prajurit? Apakah kapasitas diri sudah layak mendapatkan amanah besar dakwah yang sangat luar biasa pertanggungjawabannya? Begitulah penyakit hati itu bertengger dalam jiwanya. Besar mulutnya, lantang suaranya, indah ungkapannya tapi sesak hatinya, kering ruhiyahnya dan kerdil
firasatnya.
Tidak sekedar itu, yang tak mau kalah, ini pemimpin tapi kekanak-kanakan. Sok Qiyadah, kata seorang kader. Kerjanya mengobral ’kekuasaan’, ’jabatan’ dan mengejar kesukaan pribadi. ’Maaf, saya memiliki amanah penting. Jadi, saya agak sulit mengisi acara itu’. ’Maaf, saya mendapatkan amanah di tempat lain. Karena itu, saya tidak bisa hadir di acara seminar’. ’Saya ga pantas hadir di acara anu, karena saya sudah sering menghadiri acara gitu-gituan. Gua bosan dengan materi-materi yang monoton’. ’Amanah saya kan di bagian anu, jadi ga layak dong kalau ditempatkan di bagian anu’. Dengan mudahnya lisan tolol itu berucap ’si anu itu tidak layak mendapatkan amanah lain selain amanah anu dan anu. Selain itu cukup ‘saya’ yang ngatur’. ‘Saya lebih tahu, karena saya di struktur dan lebih tahu kalau si anu dan si anu madrasahnya ga lancar, belum benar tarbawinya; jadi wajar si anu lebih baik berada di sini saja’. ’Si anu, si anu dan si anu memang ga bisa diatur.’
Begitu mudahnya memenjarakan ide dan kreativitas orang yang masih belajar menjadi aktivis dakwah; ingin merasakan indahnya islam. ’Saya kan mas’ul (penanggungjawab), makanya berhak mengeluarkan kebijakan dan keputusan anu dan anu’. ”Lalu, apa saja standar sebuah pernyataan diklasifikasi sebagai sebuah kebijakan? Kapankah sebuah pernyataan dikatakan sebagai sebuah kebijakan dan ngigau pribadi? Apakah ungkapan yang diucapkan ketika mimpi atau ketika baru bangun dari tidur tanpa sadar langsung ditaati karena dianggap sebagai kebijakan ibarat sabda sang Rasul tercinta?”
Apakah tertutup mata hatinya dari realitas yang menjelaskan bahwa betapa banyak yang tidak mau terlibat dalam gerbong kereta dakwah ini, tidak karena benci terhadap dakwah, bahkan mereka sangat rindu bersama dalam dakwah; tapi mereka belum kuat bertahan melihat du’at pendahulu dan yang berada di tampuk amanah dakwah bermaksiat di atas dan atas nama dakwah. Mereka malu melihat ’para manusia inti’ yang jauh dengan Al Qur’an dan Allah SWT, tapi lebih dekat dengan doktrin dan manusia semata. Mereka malu melihat manusia-manusia kerdil yang menyuruh mereka memenuhi amal yaumi tetapi yang menyruh itu tidak memenuhinya. Mereka sangat malu melihat realita itu.
Di samping itu, betapa banyak orang dalam sejarah melanggar bukan karena tidak taat, tapi tidak tahu dan belum paham. Namanya juga baru. Bahkan ada yang pernah yatim dari proses tarbawi. Kemudian, ”apakah pernah ditanya, bagaimana kondisi keluarga, masalah personal dan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh si anu dan si anu yang dianggap masih anggota dan belum kader itu?”
Begitulah kondisinya ketika amanah selalu dianggap sebagai sebuah jabatan dan kedudukan. Angkuh kerjanya, sombong jiwanya, tapi kerdil perasaan, suara hati dan imajinasinya. Yang menakutkan adalah miskin imannya. Berbicara atas nama dan dalam ruang dakwah tapi kosong isinya. Ia hanya berisi dengan kekayaan stempel ’amanah’ besar di mata manusia, tapi di hadapan Allah ia memperolah stempel ’jabatan’ kehinaan. (Na’uzubika ya Allah!).
Lalu, mengapa riya’ dan kesombongan itu masih menjadi baju yang masih dibanggakan? Kalau mau tahu dan berpikir jernih, betapa takut dan malunya umat jika melihat para aktivis dakwah merasa nyaman dalam kekerontangan iman dan amal-amal ikhlas nan tulus. Lalu, ”kira-kira siapa lagi yang mau menghormati dakwah islam jika pengusung intinya merasa nyaman berdesak-desakkan di mobil dan bus damri dalam sebuah perjalanan, dengan menyusun pasal-pasal pembelaan: ‘inikan terdesak, ini darurat’, padahal pandangan fisik mata mengecoh pandangan dan kecendrungan hati bejat karena nafsu syetan menjadi isi pikiran dan hatinya?” ”Bagaimana mungkin islam menjadi basis nilai publik jika para pengusungnya tidak menjaga pandangan dan mata hati ketika berhadapan dengan ujian dunia: harta dan tahta?” Betapa mudahnya menyusun alasan, ’saya berjabat tangan dengan gadis cantik di pertemuan itu sebagai penghormatan, biar publik tidak resah dan antipati. Itu bahasa untuk publik, kalau untuk kader mesti
ketat’. Betapa mudahnya memasang diri ’seakan-akan’ menjadi pembela dakwah islam padahal dirinya sendiri dibiarkan untuk dijilat syahwat dan neraka dunia. ”Bukankah aurat itu sudah tsawabit? Tapi mengapa dengan mudahnya membuat argumentasi pembelaan dengan ’logika pengqiyasan’ kebolehan memakan daging babi dalam suasana tertentu?” ”Apakah nafasnya berhenti atau nyawanya berakhir ketika tidak bersalaman tangan dengan gadis ayu di saat mengisi acara atau ketika salam-salaman setelah ’idhul fitri dengan anak muda lajang?”
”Akankah potret manusia-manusia kerdil seperti ini menambah barisan kebingungan ummat dan rakyat banyak lalu mendaftar diri sebagai kastirul lisan (banyak di lidah) tapi naqisul ’amal (kering di amal)? Apakah manusia-manusia itu tidak sadar kalau publik sedang menonton bagaimana para aktivis dakwah berakhlak di panggung umum? Apakah manusia-manusia seperti ini pikir sesudah semua kedangkalan ini masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama sebagaimana Fir’aun dan Iblis ditempatkan dalam neraka yang mendidih?”
”Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang aktivis yang menyimpan gambar lawan jenis tanpa alasan yang benar atau merayu kader lain dalam aktifitas da’wah dengan rayuan gombal atau istilah serta panggilan-panggilan atau bahasa-bahasa gaul yang mengeraskan hati? Akankah hanya mengandalkan penghormatan awam karena status sebagai ‘orang penting’ atau aktivis, lalu menyindir dosa dan maksiat atas orang di luar sana yang semakin tersudut oleh retorika yang menyihir, padahal potret manusia yang berretorika itu sangat menyedihkan? Bila kejadian-kejadian ini terjadi di mana-mana dan dikerjakan oleh banyak orang, lalu siapa sesungguhnya manusia-manusia ini?”
Hanya sekitar 2 tahun memang. Tapi begitulah realita menyuguhkan fenomena. Fenomena yang sangat tragis dan membuat banyak orang bertanya. Bisa jadi hanya menambah tumpukkan beban umat. Hasilnya sedikit, bahkan boleh jadi tak cukup hitungan: hitungan kuantitas dan kualitas kader. Kader atau generasi yang totalitas, sebagai pewaris untuk kemenangan islam di masa depan. Sedikit agenda gerakan yang diperankan. Untuk kolom kebaikan semuanya minimalis, tapi pada kolom keburukan semuanya surplus. Bahkan sangat tragis. Dari jumlah kader, kapasitasnya sampai ke peran-peran keorganisasiannya.
Terlalu bangga bahkan bersyahwat mengejar agenda turunan (politis), tapi tidak bersyahwat untuk mewariskan peran regenerasi. Agenda politis masih menjadi ’fokus’, tapi pembangunan basis pengusung gerakan belum menjadi agenda yang dipilih. Kampus sebagai sarana rekruitasi tak pernah disapa hanya karena alasan ’itu kerjaan orang-orang kecil dan teknis, kita sudah punya amanah yang lebih besar dan strategis’. Betapa gersang dan kerdilnya pikiran ini. Berperan diukur dan dihargai berdasarkan jabatan dan kedudukan, bukan keikhlasan, totalitas dan kemenyeluruhan. Realita di sekitar hanya ditonton. Bahkan internalisasi ide, nilai dan kerangka-kerangka umum gerakan menjadi enggan. Bukankah keberhasilan mesti dilihat dari seberapa manusia yang ikut terlibat mengusung dakwah dan menikmati nilai-nilainya? Ya Allah, ampuni kami, generasi yang tak bertanggungjawab dalam menunaikan amanah dakwah ini!
Kini waktu telah berada pada titik akhir penghujungnya. Evaluasi diri yang kaku beramal itupun dimulai. Ternyata amanah besar belum ditunaikan dengan maksimal. Ide dan harapan-harapan idealis belum terejahwantahkan. Hidup di ruang yang penuh dengan interaksi dan intrik memang membawa kepenatan. Berjibaku dalam lumbung kelimpahan informasi memang bisa menghambat firasat untuk berinspirasi. Sebagaimana hidup dalam keramaian ujian dan dinamika dunia memang mampu menepis kearifan dan ketulusan jiwa. Tetapi, tentu jiwa kita tetap berharap agar dengan banyaknya interaksi, semoga semuanya mudah untuk saling memahami. Hidup di kelimpahan informasi, semoga bisa memunculkan inisiatif untuk mengambil banyak inspirasi. Hidup dalam keramaian pesan, semoga mampu menambah energi dalam cita mengasah kearifan. Harapannya; dengan banyaknya peristiwa dan kejadian, bisa menambah ruang pembelajaran. Sebagaimana juga dengan banyaknya momentum yang berada di depan mata, bisa ditindaklanjuti
sebagai penambah energi dalam menembus impian besar merubah realita. Dan dengan banyaknya refleksi seperti ini, bisa mengetahui tentang banyak kelemahan dan kekurangan untuk diatur dan dirumuskan kembali dengan rapih kemudian ditata ulang dan diteruskan menjadi aksi nyata dalam realita. Yang pasti, jika perjuangan itu adalah jalan yang panjang, harapannya jiwa dan raga kita tetap dan terus bergerak di dalamnya, hingga menemukan penghujung kehidupan termuliya yaitu kesyahidan. Jika berjuang itu mesti berkehidupan dengan beban yang berat, harapannya jiwa dan raga kita terus menyatu bersama dalam mengusungnya. Jika yang mendukung perjuangan ini sedikit, maka harapannya jiwa dan raga kita masuk di dalam komunitas yang sedikit itu.
Wahai sejarah, ’harapan itu selalu ada’. Minimal kader militan untuk masa depan islam dan negeri ini segera hadir. Minimal gagasan tersisa yang belum dieksekusi itu mengalir kembali. Minimal mimpi-mimpi indah dalam bentuk catatan-catatan sederhana bisa menjadi penyemangat, referensi tambahan bagi langkah tegap dalam menyelesikan amanah Allah yang mesti ditunaikan. Tentu, tanpa bermaksud minimalis, tapi itu saja yang baru dicoba. Walaupun banyak yang mesti ditunaikan. Tapi, beginilah kondisinya: kami aktivis muda yang perlu belajar terus dan mesti terus belajar. Evaluasi amanahpun diakhiri. Sedih, pilu, risau, bangga, dan semua rasa dinikmati. Perjuangan tak berhenti di sini, tapi amanah ini berakhir di sini. Begitulah sedikit kenangan yang bisa diungkap; di ruang besar rumah juang ini.
Selanjutnya, semoga semuanya bisa memaafkan; ’selamat berpisah sahabat, teman dan saudara-saudaraku: kader-kader KAMMI dan pengurus kepengurusan KAMDA Bandung 2006-2008! Selamat berjuang sahabat, teman dan saudara-saudaraku: kader-kader KAMMI dan pengurus baru kepengurusan 2008-2010 dan seterusnya!’
’Ya Allah,
Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu,
telah berjumpa dalam taat kepada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu,
telah berpadu dalam membela syari’at-Mu.
Kokohkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati ini dengan nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu.
Nyalakanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah dia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Ya Allah,
kabulkanlah!
Ya Allah,
sampaikanlah kesejahteraan pada junjungan kami Muhamad SAW., keluarga, sahabat-sahabatnya,
dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan!
Ya Allah,
tunjukilah kami ke jalan yang lurus,
dan berilah kami anugrah keistikomahan pada jalan-Mu yang lurus itu!’ []

Pengajian UNSOED [KORPRI] ke-8

Untuk menambah wawasan keagamaan islam dan menjalin tali silaturahmi KORPRI UNSOED mengadakan pengajian rutin yang ke-8, diselenggarakan pada hari/tanggal : Sabtu, 16 Mei 2009, di R. Seminar Lt. 3 Fak. Peternakan UNSOED, Ust. MINTARAGA, Lc. Kami mengharap kehadiran Bapak Ibu semua. Panitia.

19 Keistimewaan Wanita Menurut Hadis

*19 Keistimewaan Wanita Menurut Hadis *

1. Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang
yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan
hal tersebut, jawab baginda , ” Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa
orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang
soleh.

3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama
orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah .Dan orang yang takutkan
Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku
(Rasulullah SAW) di dalam syurga.

5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu
diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan
bersedekah.Hendakla h mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka
barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak
Nabi Ismail.

6. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan
atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan
dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa
serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapamu, maka jawablah
panggilan ibumu terlebih dahulu.

9. Daripada Aisyah r.a.” Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada
anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka
akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah
pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana
pun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung
di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya
selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga solat dan puasanya.

12. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang
lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah SAW “Suaminya.” ”
Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”

13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan,
memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu
syurga mana sahaja yang dikehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah
SWT memasukkan dia ke dalam syurga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000
tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,maka
beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap
hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah
SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari
dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu
tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang
sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba
dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

COCA COLA DAN PEPSI MENGANDUNG EKSTRAK BABI!!

WASPADALAH WAHAI UMAT ISLAM!
Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi -
TERBUKTI!! Baca dan Sebarkan!!!

Berita Buruk / Mengejutkan:

Pepsi dan Coca Cola mengandung ekstrak babi.

Kebanyakan orang tidak mengkonsumsi Pepsi dan Coca-Cola karena kandungan unsur kimia didalamnya yang sangat membahayakan tubuh seperti
excessive carbonates, dll.

Namun, sekarang, tidak ada alasan yang lebih berbahaya lagi selain informasi berikut. Para ilmuwan dan peneliti di bidang kesehatan menyatakan
bahwa mengkonsumsi Pepsi & Cola dapat mengakibatkan kanker dikarenakan bahan dasar pembuatannya berasal dari daging BABI.

BABI adalah satu-satunya binatang yang mengkonsumsi sampah, kotoran
hewan, dan urine. Pola makan babi yang RAKUS ini menghasilkan tumbuhnya banyak bakteri dan kuman yang sangat mematikan.

Berdasarkan laporan yang ditulis dalam Jordanian Medical Magazine, Rektor Delhi University Science and Technology India, Professor Dr. Mangoshada, secara ilmiah telah membuktikan bahwa bahan dasar pembuatan Pepsi dan Cola mengandung ekstrak yang berasal dari isi perut BABI yang dapat mengakibatkan kanker dan penyakit mematikan lainnya.

Indian University menyelenggarakan uji terhadap dampak pengkonsumsian Pepsi dan Coca Cola. Hasil uji ini membuktikan bahwa pengkonsumsian Pepsi dan Coca memicu pada peningkatan kecepatan denyut jantung dan tekanan darah rendah. Dan juga, pengkonsumsian 6 botol Pepsi atau Cola sekaligus dapat mengakibatkan kematian. Pepsi dan Coca Cola mengandung unsur-unsuer kimia seperti: carbonic and phosphoric acids, citric acid yang dapat merusak gigi dan mengakibatkan kerapuhan pada tulang.

Jika tulang (tulang disini adalah tulang yang berasal dari kerangka-kerangka mayat yang telah dikuburkan selama 3 tahun) diletakkan dalam segelas Pepsi/Coca Cola, maka tulang tersebut akan lumer selama 1 minggu.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa calsium dapat larut dalam Pepsi/Coca Cola. Disamping itu, Pepsi/Coca Cola juga dapat melemahkan kandung kemih, ginjal, dan ‘membunuh’ pankreas dimana hal ini dapat mengakibatkan penyakit diabetes dan infeksi.

Penggemar Pepsi atau Coca-Cola, anda tidak perlu cemas karna masih banyak minuman-minuman lain di bumi ini yang lebih sehat dan baik kualitasnya, dan kita juga punya banyak alternatif minuman kesehatan seperti: jus buah, air kelapa, berbagai macam susu, dll., dan minuman-minuman ini juga sangat mudah didapatkannya, bahkan di toko-toko kecil sekalipun.

MOHON SEBARLUASKAN PESAN INI KEPADA SELURUH KELUARGA DAN TEMAN YANG ADA DI MILIS ANDA.

SEMOGA KITA TERHINDAR DARI MINUMAN BABI INI!

KAJIAN PEMGURUS DAN KADER UKM ROHIS MIPA UNSOED

Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam ‘ala Rasulillah
Number: isnet/33; Att: is-mod, is-lam Nomor: tarbiyah/28jun94/110

BAGIAN 1
Makna Ukhuwah Islamiyah.
• Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah
1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi).
Dalam pembahasan topic ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah ini, ana hendak bagi pembicaraan ana dalam tiga bagaian, yakni:
1. pentingnya (urgency) daripada ukhuwah Islamiyah,
2. pengaturan Ukhuwah Islamiyah dalam Al Qur’an dan As-Sunnah,
3. tahap-tahap pembentukan Ukhuwah Islamiyah.
Insya Allah, ana hendak mulai dengan subtopic yang pertama, yakni pentingnya ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana yang Antum semua telah ketahui, problema umat Islam saat ini banyak sekali, baik di kalangan umat Islam sendiri maupun di dunia internasional, terutama setelah jatuhnya kekhalifahan Islam terakhir tahun 1924.
a. Di kalangan sendiri, umat Islam saat ini terpecah-pecah menjadi 55 (lebih), masing-masing bangga dengan negaranya. Sering-seringnya negara-negara Islam sendiri tidak damai satu dengan yang lain. Bahkan tidak jarang satu dengan yang lain terjadi perang karena masalah yang sepele, misalnya batas wilayah.
b. Umat Islam menjadi kehilangan satu leadership dan akibatnya sering ‘loyo’ dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Lihat saja kasus pembantaian umat Islam di Palestina, Kasmir, Bosnia, Asia Tengah, India, dll.
c. Hubungan di antara orang-orang Islam sendiri sering terjadi tidak jelas, yakni seperti orang-orang biasa. Sering kita ini tidak memberikan hak daripada saudara kita se-Islam dengan semestinya. Akibatnya yah ikatannya lemah sekali, kalau ada untungnya ya berbaik-baikan, kalau nggak ada ngapain susah-susah mikirin “orang lain”. Seolah-olah tidak ada ikatan yang istimewa di antara orang-orang Islam.
d. dst. (masih banyak lagi problema umat Islam)
Coba renungkan ya Ikhwah/Akhwat sekalian. Kenapa umat Islam jatuh ke kondisi seburuk saat ini? Di sinilah letak pentingnya Ukhuwah Islamiyah. Banyak dari problem Umat Islam akan mudah sekali terpecahkan kalau kita benar-benar mampu memahami kaidah ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dan membina ukhuwah Islamiyah.
Allah Subhanahu wa ta’ala secara cantiknya menggambarkan hubungan antara sesama orang-orang yang beriman:

“Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu, dan patuhlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al Hujuraat 10)
Dalam ayat ini Allah SWT mengkaitkan ukhuwah (persaudaraan) dengan iman, menunjukkan betapa pentingnya ma’na ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah dijadikan oleh Allah SWT sebagai salah satu dari tanda-tanda orang yang beriman.
Dalam shirah Rasulullah s.a.w., Antum dapat menghayati ma’na daripada ayat di atas; bagaimana Rasulullah s.a.w. mengimplementasikan perintah Allah ini dalam membina umat Islam saat itu. Segera setelah beliau hijrah dan sampai di Medinah, salah satu langkah yang paling awal yang beliau lakukan adalah mengikat persaudaraan antara orang-orang Muhajirin dan Anshor. Ikatan persaudaraan yang dibina oleh Rasulullah ini sedemikian kuatnya sehingga melebihi rasa persaudaraan di antara dua saudara kandung. Beliau juga memerintahkan dibangunnya Masjid, sebagai pusat bertemunya orang-orang yang beriman paling sedikit 5 kali sehari.
Dalam pembentukan Ukhuwah Islamiyah, ada tiga tahapan yang harus dilalui:
1. tahap ta’aaruf (saling mengenal),
2. tahap tafaahum (saling memahami),
3. tahap takaaful (saling mencukupi).
Mari kita tengok secara singkat 3 tahapan ini pada bagian selanjutnya.

BAGIAN 2

Pada tahap “ta’aaruf”, ukhuwah mulai dirintis. Yakni, dua (atau lebih) ikhwah saling mengenal, dengan saling mengunkapkan latar-belakang masing-masing. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hal ini:
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang lebih bertaqwa. Sesungguhnya ALlah MahaTahu dan Mengerti.” (Q.S. Al Hujurat 13).
Dengan pengenalan ini maka kita mampu menghayati hakekat perbedaan-perbedaan (bangsa, kedudukan, status, ras, bahasa, dll.) di antara kita dan akhirnya mampu menerima perbedaan-perbedaan ini sebagai kehendak Allah agar kita bisa saling mengenal.
Pada tahap “tafaahum”, level ukhuwah adalah lebih tinggi lagi. Setelah kita mengenal latar-belakang Akh kita, maka selanjutnya kita perlu memahami diri Akh kita lebih detail lagi. Yakni sampai pada taraf mengenal dan memahami apa-apa yang disukai dan apa-apa yang dibenci oleh Akh kita, sehingga kita dapat bertindak sebaik-baiknya kepadanya. Yakni sampai pada taraf kita memahami kelebihan dan kelemahan Akh kita sehingga dapat bertindak demi untuk kebaikan Akh kita.
Pada tahap “takaaful”, disinilah level yang tertinggi. Setelah kita saling mengenal, kemudian saling memahami, akhirnya kita bisa saling mencukupi. Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita:
“….Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam mengerjakan dosa dan pelanggaran hukum….” (Q.S. Al-Maidah 2).
Bagaimana kita melaksanakan perintah ALlah ini kalau kita tidak saling mengenal maupun satu sama lain? Jadi kedua tahapan ukhuwah merupakan pre-requisite untuk tahapan takaaful ini.
Dalam harakah Islamiyah, terbinanya ukhuwah Islamiyah berperan penting sekali demi keberhasilan da’wah. Imam Syahid Hasan Al Banna menjadikan ukhuwah Islamiyah ini sebagai salah satu dari 10 tiang bai’ah dalam organisasi da’wah yang beliau bina. Beberapa ungkapan beliau yang mungkin dapat kita kaji dalam membentuk ukhuwah Islamiyah adalah sebagai berikut:
 Kekuatan jama’ah, sebagaimana organisasi-organisasi secara umumnya, adalah terletak pada kekuatan ikatan para anggotanya.
 Tiada ikatan yang lebih kuat dalam hal ini selain ikatan “cinta” yang didasarkan pada aqidah Islam.
 Tingkatan daripada “ikatan cinta” ini yang paling lemah adalah kebersihan hati kita terhadap Akh kita (yakni dari segala macam penyakit hati, seperti buruk sangka, iri-dengki, congkak, tamak, dll.).
 Tingkatan yang paling tinggi daripada “ikatan cinta” ini adalah mendahulukan Akh kita dan kepentingannya sebelum kita dan kepentingan kita.
Akhirnya, ana hendak menutup uraian tentang ukhuwah Islamiyah ini dengan sekali lagi menguraikan betapa pentingnya ukhuwah Islamiyah ini bagi kita sendiri sebagai individu Muslim. Kita semua tahu kan agama Islam adalah agama Allah. Dan Allah telah menjanjikan kelanggengan Islam. Jadi, apa kita mau menjalin ukhuwah Islamiyah atau tidak, Islam akan tetap jaya dan da’wah Islam akan berjalan terus. Tetapi kita tidak bisa hidup tanpa ukhuwah Islamiyah. Ibaratnya sekelompok biri-biri di pinggir hutan. Seekor serigala hanya akan mampu menangkap seekor biri-biri yang terpencar dari kelompoknya.

Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
Buah Ukhuwah Islamiyah
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45-48)
Bagian 3
Enam Perusak Ukhuwah
Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]
Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.
Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.
Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang nggak berkenan. Kalau ada pertanyaan tolong diajukan. Ana akan coba jawab yang setahu ana. Ikhwah/Akhwat yang lain insya Allah akan melengkapinya.

Referensi
• Bercinta dan bersaudara karena Allah, Ust. Husni Adham Jarror, GIP
• Meraih Nikmatnya Iman, Abdullah Nasih ‘Ulwan
• Rahasia Sukses Ikhwan Membina Persaudaraan di Jalan Allah, Asadudin Press
• Panduan Aktivis Harokah, Al-Ummah

Tragedi situ gintung

Dear All,

Turut berduka cita yang sangat mendalam atas musibah yang menimpa saudara2 kita di Tangsel atas jebolnya situ Gintung Jumat 27 maret 2009 pukul 05.00 wib yang sampai tulisan ini ditulis telah memakan korban 98 orang, smoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran atas musibah yang terjadi, dan smoga Alloh menjadikan syahid suadara2 kita yang menjadi kurban dan diterima di sisiNya dan diberikan tempat yang mulia. Amien.

regards
Pengurus Pengajian Unsoed

Nikmatnya Shodaqoh

By: agussyafii

Sore itu saya kedatangan tamu. Mas Nurul bertutur bahwa shodaqoh itu nikmat. Pernah suatu hari dirinya dihubungi kakak tercintanya yang sedang ada kebutuhan mendesak. Sementara dirinya dalam ada kebutuhan. ‘Saya bismillah mas. sungguh luar biasa nikmatnya shodaqoh itu.’ katanya.

Tak lama kemudian mas nurul dihubungi oleh perusahaan yang dulu tempat bekerja. Ada bonus yang berlipat2 diterimanya. Shodaqoh itu bukti kebenaran Alloh SWT. Alloh SWT Maha besar dengan segala kuasaNya. ‘Saya percaya shodaqoh memiliki kekuatan dalam kesuksesan hidup saya.’ begitu tuturnya.

benarlah kiranya apa yang dikatakan Mas Nurul Untuk memahami bagaimana shodaqoh berperan dalam kesuksesan hidup Anda, ada baiknya Anda memahami Hukum Ketertarikan (The Law of Atrraction). “ Apa yang anda pikirkan itulah yang akan terjadi”

Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, Bentengilah harta yang anda miliki dengan zakat dan tolaklah marabahaya dengan doa (HR Baihaqi).

Wassalam,
agussyafii


Tulisan ini dalam rangka kampanye program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’, Minggu, tanggal 17 Mei 2009 dirumah Amalia. Program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’ mengajak. ‘Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.’ Mari kirimkan dukungan anda pada program ‘Amalia Cinta Bumi’ (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 12431

Nafs pada Orang Meninggal Dunia

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Pengertian mati dan hidup harus dibedakan antara pengertian medis dan pengertian eskatologis. Secara medik, mati mengandung arti kebalikan dari hidup, sedangkan dalam konsep eskatologis seperti yang dianut al-Quran, disamping ada hidup di alam dunia, mamsih ada kehidupan setelah kematian, dan bahkan al-Quran menyatakan dalam surat al- Ankabut / 29:64 bahwa kehidupan setelah mati itulah kehidupan yang sebenarnya.

Tentang jasad orang mati yang hancur menjadi tanah pun, al-Quran menyatakan dalam surat Yasin / 36:78-79 bahwa kelak Allah akan menghidupkan kembali tulang belulang yang sudah hancur dan nafs akan dipertemukan dengan tubuhnya, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Takwir / 81:7. Al-Quran juga menggunakan term nafs untuk menyebut totalitas manusia dalam arti jiwa dan raga seperti yang tersebut dalam surat al-ma idah / 52:32 dan totalitas manusia dalam arti yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat seperti yang disebutkan dalam surat Yasin / 36:54.

Dengan demikian, menurut al-Quran, nafs itu dengan sistemnya tetap berada pada manusia pemiliknya, baik ketika ia berada bersama jasadnya dalam alam kehidupan dunia maupun ketika setelah berada dalam alam kematian (kehidupan di akhirat). Yang membedakan ialah bahwa dalam alam kehidupan dunia, nafs dalam status usaha, sementara nafs di alam akhirat hanya tinggal menerima pahala atau azab.

Adapun roh, ia ditiupkan Allah ke dalam jasad yang sudah memenuhi syarat kesempurnaan seperti yang diisyaratkan dalam surat al-Sajdah / 32:7-9, dan ketika ajal telah tiba, roh dipisahkan dengan jasad oleh malaikat maut, seperti yang diisyaratkan surat al-Anam / 6:93. Jadi, dalam keadaan mati, jasad seseorang sudah tidak ada rohnya yang mmenyebabkan ia hidup. Al-Quran tidak berbicara tentang perjalanan roh setelah kematian seseorang, apakah roh pindah ke alam baqa atau hilang kembali ke asalnya. Al-Quran surat al-Isra / 17:85 telah menutup peluang untuk mengetahui lebih banyak tentang roh dengan kalimat roh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan itu.

Al-Quran menyebutkan bahwa manusia akan dikembalikan kepada Allah. Tentang kembalinya manusia kepada Allah SWT, al-Quran menggunakan tiga term, yaitu:

1) Bahwa setiap yang berjiwa akan merasakan mati dan kemudian akan dikembalikan kepada Allah, disebut dalam surat al-Ankabut / 29:57

2) Bahwa manusia akan kembali kepada Allah, disebutkan dalam surat al-Baqarah / 2:156

3) Bahwa Allah adalah tempat kembalinya manusia, disebut dalam surat Alu ‘Imran / 3:55 .

Tentang siapa yang kembali kepada-Nya, apakah rohnya, nafs-nya, akal dan hatinya atau totalitas jiwa raganya, al-Quran menyebut bahwa jiwa manusia harus mempertanggungjawabkan amalnya kepada Allah SWT kelak, yakni:

1)Nafs-nya, seperti yang disebutkan dalam surat Yasin / 36:54,

2) Qalb-nya, seperti yang diisyaratkan surat al-Baqarah / 2:225, dan

3) Fungsi-fungsi jiwanya, pendengaran, penglihatan dan fuad-nya, seperti yang disebut dalam surat al-Isra / 17:36.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii


Tulisan ini dalam rangka kampanye program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’, Minggu, tanggal 17 Mei 2009 dirumah Amalia. Program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’ mengajak. ‘Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.’ Mari kirimkan dukungan anda pada program ‘Amalia Cinta Bumi’ (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 1243

Fungsi Qalb (Hati)

By: agussyafii

Fungsi yang utama dari qalb adalah sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang disebut dalam surat al-Hajj / 22:46, atau pada surat al-A’raf / 7:179.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada (Q., s. al-Hajj / 22:46).

Pada ayat ini, qalb mempunyai potensi yang sama dengan akal, atau yang dimaksud qalb di sini adalah akal. Berangkat dari fungsi utama inilah maka qalb secara sadar memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu, dan dari potensi inilah maka yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Tuhan adalah apa yang disadari oleh qalb seperti yang disebut dalam surat al-Baqarah / 2:225 dan oleh fu’ad seperti yang disebutkan dalam surat al-Isra / 17:36.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesunguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertangggungjawabannya (Q., s. al-Isra / 17:36).

Dalam bahasa Arab, qalb dan fu’ad mempunyai arti yang sangat dekat penamaannya. Sebuah hadits Nabi mengisyaratkan kedekatan dari makna kedua term tersebut, yakni ungkapan kelembutan qalb (ARAB) dan kehalusan fu’ad.

Selanjutnya potensi-potensi dari qalb yang disebutkan al-Qur’an adalah:

1) Bahwa qalb itu bisa berpaling, seperti yang ada dalam surat al-Tawbah / 9:117.

2) Merasa kecewa dan kesal, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Zumar / 39:45

3) Secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, tertera surat al-Ahzab / 33:4 (ARAB), dan surat al-Baqarah / 2:225,

4) Berprasangka, terdapat dalam surat al-Fath / 48:12.

5) Menolak sesuatu, ada dalam surat al-Tawbah / 9:8,

6) Mengingkari, seperti yang ada dalam surat al-Nahl / 16:22

7) Dapat diuji, seperti tercantum dalam surat al-Hujurat / 49:3
8) Dapat ditundukan, ada dalam surat al-Hajj / 22:54,

9) Dapat diperluas dan dipersempit diuraikan pada surat al-An’am / 6:125

10) (bahkan) Bisa ditutup rapat, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah / 2:7.

Tentang bagaimana qalb bisa berbalik, berpaling, berubah, menolak, memutuskan dan sebagainya, juga diisyaratkan oleh sebuah hadits:

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami pada agama-Mu untuk taat kepada-Mu (H.R. Muslim dari Amr ibn ‘Ashsh).

Wassalam,
agussyafii


Tulisan ini dalam rangka kampanye program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’, Minggu, tanggal 17 Mei 2009 dirumah Amalia. Program ‘Amalia Cinta Bumi (ACIBU)’ mengajak. ‘Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.’ Mari kirimkan dukungan anda pada program ‘Amalia Cinta Bumi’ (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 12431

Menyingkap Tabir Kebohongan Zionis Yahudi atas perisitiwa Holocaust

Holocaust-denying bishop refuses to recant without ‘evidence’
(The Local, Published: 7 Feb 09 14:28 CET)

A Catholic bishop rehabilitated by the pope who denies the Holocaust has refused to recant his statements until he sees “evidence,” he said in an interview published on Saturday. The issue has sparked a storm of outrage towards the Catholic Church and hurt relations with Jewish groups.

In the interview with the newsmagazine Der Spiegel, British Bishop Richard Williamson said he would not take back his statements about the Holocaust –he says the Nazis did not have gas chambers and only 300,000 Jews died in concentration camps – until he had examined the historical evidence.

“And if I find this evidence, I will correct myself. But that will take some time,” said the bishop, who is a member of the ultraconservative St. Pius X Society.

Williamson set off the current scandal when he told a Swedish television team his views on the Holocaust. It sparked a firestorm of controversy, souring relations between the Vatican and Jewish groups and leading to a rare public rebuke of the pontiff by a leading politician, German Chancellor Angela Merkel.

In the interview, Williamson said he was amazed at all the attention his words had received in Germany, saying he believed he was being used as an instrument to harm the priesthood and the pope.

“Apparently, German left-wing Catholicism has not forgiven Ratzinger for becoming pope,” he said, referring to Pope Benedict XVI, Bavarian-born Joseph Ratzinger.

Williamson continued his criticism of the Second Vatican Council, saying it had “led to the theological chaos that we have today.” The traditionalist St. Pius X Society strictly rejects the 1960’s Catholic Church reforms.

According to several media reports, the controversy is causing increasing numbers of German Catholics to leave the Church.

“The wave has already begun,” said Father Eberhard von Gemmingen, head of the German service of Vatican Radio, in an interview published Saturday in the Passauer Neue Presse. He described the relationship between the pope and German Catholics as “a little damaged.”

DPA/The Local, Germany’s News in English.

ad
  • Categories

  • Tarikh Hijriah

    Jadwal Sholat @ myQuran.org


  • Pengelola Pengajian UNSOED :

  • Klik aja !


    “Kullu khoirin fi ittibaa’i man salaf wa kullu syarrin fi ibtidaa’i man kholaf (setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu, dan setiap keburukan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian).”
  • Sponsors

    semnas
Quran Reader For Mobile Phones