MUHASABAH AKHIR
MUHASABAH AKHIR
(Sebuah Refleksi Untuk Aksi)
Oleh: Syamsudin Kadir
Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Bandung
Januari 2007, sebuah mukadimah amanah baru dimulai: menjadi Pengurus KAMMI Daerah Bandung 2006–2008. Banyak fenomena yang terjadi. Banyak tantangan yang dihadapi. Banyak amal yang mesti dituntaskan. Banyak kejadian dan peristiwa yang dilalui. Ada derita, sedih dan air mata. Ada sapa, canda, dan sendagurau. Ada senyum, salam dan kehangatan. Ada ruang rindu untuk terus berjuang, ada ruang ukhuwah (persaudaraan) yang mesti dikuatkan. Semuanya ada dan lengkap dengan keunikannya.
Singkat cerita, cetak biru perjuangan telah tercipta. Subhanallah, demikian indahnya bersama dan menyatu dalam ruang perjuangan dakwah dengan cita-cita ideal pergerakannya. Melingkup lengkap seluruh jenis ruang kajian di masyarakat; mulai dari kebijakan publik, pengabdian kepada masyarakat, ke-media-an, dan pola pencetakan kader organisasi dan organisasi kader. Itulah ruang cita-cita, itulah mimpi: idealis, perspektif dan normatif.
Tapi bagaimana kenyataannya? Kenyataan selalu berkata jujur. Kerja sederhana sampai hasil hanya sekedar. Berkontribusi picik hingga tak menuai hasil. Iya, begitulah jiwa itu menorehkan sejarah perannya. Demikianlah tangan-tangan kaku itu meraba amanah dakwah. ’Ini adalah amanah besar’, kata sebagian orang. Iya begitulah semestinya dan begitulah seharusnya. Tapi, di manakah keharusan itu selama ini? Di manakah singgahnya keniscayaan itu dalam ruang kenyataan?
Kini, amanah itu berakhir dan memang setiap peran pasti pergi dan dipergilirkan. Kini, kerja-kerja sederhana itu hanya tinggal kenangan. Jiwa-jiwa pejuang yang penuh semangat dalam belajar beramalpun ditinggal pergi. Ya, pengurus baru dan kader-kader KAMMI Daerah Bandung kini menyusun cerita, pergantian kepengurusan: Mengakhiri pertemuan, menanti perpisahan.
Malu dan seharusnya malu. Karena memang berkontribusi tapi dengan hasil memalukan. Aktivitas hanya menghabiskan tenaga dan waktu. Amanah belum ditunaikan secara maksimal. Ide-ide hanya diendap di ruang pikiran bahkan juga hanya angan-angan. Hingga pekikan takbir tinggal suara merdu. Ibarat beduk bertalu tak berujung dengan pesan bermakna. Pengorbanan yang diberikan tak luput dari virus kepalsuan tanpa energi; semacam krisis keikhlasan hati dan kering kerendahan diri.
Banyak tertawa tanpa mau menyadari sang maut sedang mengintai. Cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata itu hanya tergesa-gesa agar bisa segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Robbnya. Datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Datang ke ruang tarbawi hanya karena sistem bukan karena rindu akan impian dan hasil jangka panjang. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu; karena dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. ”Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah yang menimpa diri”, kata seorang ustadz mengingatkan. Output pengkaderan seharusnya bisa membawa diri dan banyak orang ke ruang takwa, tapi justru riya’ dan sombong dipakai menjadi baju dan simbol diri.
Mudah terpesona dengan sanjungan, ”engkau yang pandai bercakap, pintar memenej organisasi, ramah, banyak jaringan, punya konsep jitu, punya kekuatan ruhiyah semacam kekuatan keheningan senyap di tingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shoum atau kedalaman munajat dalam raka’at-raka’at panjang sampai berjuz-juz ayat yang dibaca dan dihafal”. Tersanjung dengan licinnya lidah bertutur, sementara dalam hati tak ada apa-apa. Mengunyah mitos pemberian dan penghargaan serta sangka baik orang-orang berhati jernih; bahwa diri ”sholeh, ’alim, ’aabid, apik terus semangat dan cerdas”. Lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri dan tunduk diri dalam bermunajat memohon ampun kepada yang memiliki kekuatan dan yang wajar sombong; Allah Yang Maha Besar. Apakah tidak takut dan tahu diri, dengan begitu bergelimangnya jiwa dan raga oleh dosa kepada Allah, khilaf kepada sesama serta khianat terhadap amanah?
As Shiddiq, Abu Bakar ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih. Sebagaimana juga kerendahan diri Umar bin Abdul Aziz ra. yang takut mengkhianati amanahnya sebagai pemimpin tertinggi umat pada zamannya. Tapi, apakah semua itu menjadi tauladan yang kemudian diikuti? Atau hanya sekedar dijadikan doktrin yang tidak karuan dalam ruang pengkaderan? Masih senang dipuji, tapi murka jika dicuekin. Bangga mendapatkan amanah besar, tapi kerdil dalam beramal. Lalu, beginikah potret aktivis yang memimpikan perubahan umat dan merindukan nikmatnya surga?
Bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak hal, lalu lupa dengan hal lain yang juga penting dan bahkan lebih utama. Mengaku beramal besar dan banyak beramal kemudian selalu mengingat-ingatnya, bahkan menyebut-nyebutnya. Padahal beramal kecil dan sedikit beramal kemudian dilaksanakan dengan krisis keikhlasan. Tapi justru dengan itu menjadi angkuh dan mengklaim kontribusinya sangat banyak dan besar. Sering menyalahkan bahkan mencurigai orang yang banyak beramal dan beramal besar dengan keteguhan dan keikhlasan. Bukan karena apa-apa, tapi karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal dengan lamunan pribadi, atau tidak mau kalah dan tertinggal untuk pamer diri di hadapan para pejuang yang memang benar-benar tulus dan ikhlas beramal. Begitulah fenomena menukar kerja dengan kata, sikap dan tabia’t busuk. Lalu, di manakah nilai dan ruh ikrar ’jika hanya ada satu orang yang berjihad di jalan Allah, maka itu adalah aku’ itu diletakkan?
Saat kecil atau jenjang awal, begitu takut gelapnya dosa dan syubhat serta segala yang asing. Begitu kerap bergetar dan takut berpakaian ’kemunafikan’ dan ’kesombongan.’ Hafalan ayat masih utuh dalam lantuan tilawah maupun tausiyah dan qiyamul lail. Bahkan bermuamalah dengan lawan jenis masih terjaga dengan baik, sebagaimana diajarkan di shof-shof tarbawi dari beberapa tahun yang lalu. Namun, sesudah ilmu dan pengalaman makin bertambah serta amanah dibebankan di pundak, karakter dan kekhasanpun berubah. Berani tampil di depan banyak orang termasuk memamerkan simbol tanpa rasa gentar dan malu. Tak mampu menggetarkan hati bahkan justru membuat yang mendengar tidak mampu menata dunia dengan iman dan mencintai kematian dengan impian kesyahidan. Semua sudah jadi basa-basi, tanpa rasa. Tanpa tau diri. Tanpa ruh. Keaslian dakwah islam dimanipulasi dengan wajah-wajah garang penuh kepalsuan.
Telah berapa lama hidup dalam lumpur yang membunuh hati sehingga getarannya tak terasa lagi saat dunia menggoda diri dan kemudian menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu raka’atpun qiyamul lail yang dikerjakan. Adapun dikerjakan hanya karena target dan takut dievaluasi di ruang tarbawi. Dari siang ke siang hanya dilalui dengan sendagurau yang berlebihan dan agenda-agenda yang mematikan hati serta menjerumuskan jiwa dan raga ke dalam lembah kenestapaan. Usia tarbawi semakin berlanjut tanpa jenjang kedewasaan komitmen kuat, ketaatan meninggi, ruhiyah yang kental dan iman menghujam. Lalu, di mana diri dan jiwa itu menguburkan rasa malu dan takut kepada Allah?
Apakah diri dan jiwa itu sudah mulai berfikir “biasa saja, bila main mata dengan aktifis lawan jenis di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh atau SMS dengan kata-kata yang mendatangkan syahwat maksiat?” Apakah sudah mulai berfikir ‘asal jangan bershahwat ketika dengan bangganya tidak menjaga dan menundukkan pandangan?’ Setiap keletihan, kelelahan bahkan kerumitan memang merupakan beban yang memberatkan. Karenanya perlu ada selingan yang meringankan tapi bukan humor, sendagurau dan canda yang mengeraskan hati, yang menambah nestapanya jiwa yang kering. Sungguh bijak isi tausiyah seorang kader KAMMI Bandung pada buku komunikasi kader dan kepengurusan berikut ini: “yang dibutuhkan adalah humor-humor yang mengingatkan kita mengenai awal dan akhir kehidupan, mengenai kuburan dan mengenai akhirat. Sendagurau yang menyentuh hati gersang yang butuh
siraman, canda yang menguatkan keteguhan yang mulai terseok-seok keangkuhan”.
Kini, betapa mudahnya percaya kepada gosip yang mengarah kepada fitnah kepada saudara seiman dan seaktivis. Sungguh merisaukan. Menghukum tanpa lasan yang jelas. Percaya kepada pernyataan-pernyataan yang belum jelas kebenarannya. Mengumbar materi fitnah ke mana-mana, di mana-mana dan dengan siapa-siapa. Semuanya dilalui tanpa klarifikasi. Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam aktivitas harian. ’Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”? Saat diri dan jiwa itu muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan (banci) atau perempuan berpakian laki-laki (banci), karena ketika itu sangat mendukung ustadz yang mengatakan ’jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki’, apakah tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?’ ’Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu
urusan tinggallah dengan diri semata. Bukankah di manapun makhluk berada, Allah tetap ada dan menyaksikan?’
Sekarang merasa diri telah jadi kader dan orang hebat. Berada pada jenjang tertentu, punya amanah strategis, entah di manalah. Ada di wajihah anu, di kampus anu, di struktur anu. Tidak lagi malu-malu tampil atas amanah dakwah di depan yang lain, padahal kebobrokan diri lebih busuk dari apa yang dikeluarkan dari kotoran yang setiap hari dikeluarkan dari perut pada sebuah WC masjid. ”Apa yang disombongkan jika mendapatkan amanah berdasarkan retorika dan kepalsuan simbol dan pengakuan lisan tanpa makna? Apa yang dibanggakan jika amanah diperoleh karena penilaian manusia dan belum tentu benar di pandangan Allah? Apa yang dibanggakan jika huruf hija’iyah dari ayat-ayat Al Qur’an yang dibaca tidak lebih nyaring daripada suara kerbau di kandang sang tukang sawah yang ikhlas membantu membajak sawah tuannya? Apa yang dikagumkan jika hafalan ayat ataupun surat tidak lebih dari Al Fatihah dan Al Ikhlas bahkan tidak lebih dari satu juz? Apa yang membuat ‘bergaya’ jika menghafal
beberapa surat bahkan juz, hanya ungkapan lisan, bukan pengahayatan hati atas apa yang dihafal? Apakah tidak iri dengan seorang Orientalis atau Zionis durjana yang ‘membenci Islam, Al Qur’an dan pembela keduanya, tapi mampu menghafal, menelaah bahkan menafsirkan Al Qur’an? Apakah tidak malu ketika mendapatkan amanah strategis di sarana amal atas nama dakwah padahal tidak sedikitpun inisiatif membuat jadwal untuk memahami Al Qur’an, As Sunnah dan Siroh Nabawiyah sebagai sumber dakwah yang sesungguhhya, yang mesti dipahami paling awal? Apakah tidak malu untuk berpenampilan ‘sok pahlawan’ dan bangga bertitel aktivis dakwah padahal tidak mampu menahan pandangan dari penglihatan lawan jenis yang bukan muhrim?” Betapa mudahnya menyusun pembelaan, ”sekarang zamannya dakwah terbuka, karenanya menjaga pandangan dan batasan dengan lawan jenis sudah bukan zamannya. Sekarang zamannya hidup bersama publik, karena itu cara berpakaian dan sikappun mesti mengikuti trend publik”.
Ironi dan sangat ironi. Hati yang berbunga-bunga di depan banyak orang. Semua gerak dan langkah harus ditakar dan jadilah pertimbangan keikhlasan tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang dimiliki. Begitu jauhnya keunggulan di kalangan awam umat dan rakyat banyak, sedikit banyak karena para ’tim inti umatnya’ telah melangkah lebih awal dalam lumuran riya’, cinta dunia dan takut mati. Betapa rusaknya dakwah islam jika ’du’atnya’ sudah mulai terseret lembah kenestapaan seperti ini.
Tidak berhenti di situ, pada saat yang sama melawan sistem dan struktur dengan ungkapan sok tau, sok aktivis tanpa tau diri dan melihat kondisi dan tempat; diungkap di sembarang tempat, di mana-mana dan dengan siapa-siapa. ‘Inikan organisasi anu, wajihah anu, saya punya sudut pandang sendiri; karena itu struktur tidak punya hubungan dengan saya’. Lalu, di manakah posisi ruang tarbawi yang membentuk kapasitas diri dan mengenalkan jiwa ringkih ruhiyah dan gersang iman itu untuk mengenal Allah dan memaknai kehidupan yang sesungguhnya selama ini? Inilah sosok rakyat yang sok pemimpin. Tong kosong, nyaring bunyinya. Apakah sudah berfikir ’semuanya mesti jadi panglima?’ Apakah tidak perlu belajar menjadi prajurit? Apakah kapasitas diri sudah layak mendapatkan amanah besar dakwah yang sangat luar biasa pertanggungjawabannya? Begitulah penyakit hati itu bertengger dalam jiwanya. Besar mulutnya, lantang suaranya, indah ungkapannya tapi sesak hatinya, kering ruhiyahnya dan kerdil
firasatnya.
Tidak sekedar itu, yang tak mau kalah, ini pemimpin tapi kekanak-kanakan. Sok Qiyadah, kata seorang kader. Kerjanya mengobral ’kekuasaan’, ’jabatan’ dan mengejar kesukaan pribadi. ’Maaf, saya memiliki amanah penting. Jadi, saya agak sulit mengisi acara itu’. ’Maaf, saya mendapatkan amanah di tempat lain. Karena itu, saya tidak bisa hadir di acara seminar’. ’Saya ga pantas hadir di acara anu, karena saya sudah sering menghadiri acara gitu-gituan. Gua bosan dengan materi-materi yang monoton’. ’Amanah saya kan di bagian anu, jadi ga layak dong kalau ditempatkan di bagian anu’. Dengan mudahnya lisan tolol itu berucap ’si anu itu tidak layak mendapatkan amanah lain selain amanah anu dan anu. Selain itu cukup ‘saya’ yang ngatur’. ‘Saya lebih tahu, karena saya di struktur dan lebih tahu kalau si anu dan si anu madrasahnya ga lancar, belum benar tarbawinya; jadi wajar si anu lebih baik berada di sini saja’. ’Si anu, si anu dan si anu memang ga bisa diatur.’
Begitu mudahnya memenjarakan ide dan kreativitas orang yang masih belajar menjadi aktivis dakwah; ingin merasakan indahnya islam. ’Saya kan mas’ul (penanggungjawab), makanya berhak mengeluarkan kebijakan dan keputusan anu dan anu’. ”Lalu, apa saja standar sebuah pernyataan diklasifikasi sebagai sebuah kebijakan? Kapankah sebuah pernyataan dikatakan sebagai sebuah kebijakan dan ngigau pribadi? Apakah ungkapan yang diucapkan ketika mimpi atau ketika baru bangun dari tidur tanpa sadar langsung ditaati karena dianggap sebagai kebijakan ibarat sabda sang Rasul tercinta?”
Apakah tertutup mata hatinya dari realitas yang menjelaskan bahwa betapa banyak yang tidak mau terlibat dalam gerbong kereta dakwah ini, tidak karena benci terhadap dakwah, bahkan mereka sangat rindu bersama dalam dakwah; tapi mereka belum kuat bertahan melihat du’at pendahulu dan yang berada di tampuk amanah dakwah bermaksiat di atas dan atas nama dakwah. Mereka malu melihat ’para manusia inti’ yang jauh dengan Al Qur’an dan Allah SWT, tapi lebih dekat dengan doktrin dan manusia semata. Mereka malu melihat manusia-manusia kerdil yang menyuruh mereka memenuhi amal yaumi tetapi yang menyruh itu tidak memenuhinya. Mereka sangat malu melihat realita itu.
Di samping itu, betapa banyak orang dalam sejarah melanggar bukan karena tidak taat, tapi tidak tahu dan belum paham. Namanya juga baru. Bahkan ada yang pernah yatim dari proses tarbawi. Kemudian, ”apakah pernah ditanya, bagaimana kondisi keluarga, masalah personal dan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh si anu dan si anu yang dianggap masih anggota dan belum kader itu?”
Begitulah kondisinya ketika amanah selalu dianggap sebagai sebuah jabatan dan kedudukan. Angkuh kerjanya, sombong jiwanya, tapi kerdil perasaan, suara hati dan imajinasinya. Yang menakutkan adalah miskin imannya. Berbicara atas nama dan dalam ruang dakwah tapi kosong isinya. Ia hanya berisi dengan kekayaan stempel ’amanah’ besar di mata manusia, tapi di hadapan Allah ia memperolah stempel ’jabatan’ kehinaan. (Na’uzubika ya Allah!).
Lalu, mengapa riya’ dan kesombongan itu masih menjadi baju yang masih dibanggakan? Kalau mau tahu dan berpikir jernih, betapa takut dan malunya umat jika melihat para aktivis dakwah merasa nyaman dalam kekerontangan iman dan amal-amal ikhlas nan tulus. Lalu, ”kira-kira siapa lagi yang mau menghormati dakwah islam jika pengusung intinya merasa nyaman berdesak-desakkan di mobil dan bus damri dalam sebuah perjalanan, dengan menyusun pasal-pasal pembelaan: ‘inikan terdesak, ini darurat’, padahal pandangan fisik mata mengecoh pandangan dan kecendrungan hati bejat karena nafsu syetan menjadi isi pikiran dan hatinya?” ”Bagaimana mungkin islam menjadi basis nilai publik jika para pengusungnya tidak menjaga pandangan dan mata hati ketika berhadapan dengan ujian dunia: harta dan tahta?” Betapa mudahnya menyusun alasan, ’saya berjabat tangan dengan gadis cantik di pertemuan itu sebagai penghormatan, biar publik tidak resah dan antipati. Itu bahasa untuk publik, kalau untuk kader mesti
ketat’. Betapa mudahnya memasang diri ’seakan-akan’ menjadi pembela dakwah islam padahal dirinya sendiri dibiarkan untuk dijilat syahwat dan neraka dunia. ”Bukankah aurat itu sudah tsawabit? Tapi mengapa dengan mudahnya membuat argumentasi pembelaan dengan ’logika pengqiyasan’ kebolehan memakan daging babi dalam suasana tertentu?” ”Apakah nafasnya berhenti atau nyawanya berakhir ketika tidak bersalaman tangan dengan gadis ayu di saat mengisi acara atau ketika salam-salaman setelah ’idhul fitri dengan anak muda lajang?”
”Akankah potret manusia-manusia kerdil seperti ini menambah barisan kebingungan ummat dan rakyat banyak lalu mendaftar diri sebagai kastirul lisan (banyak di lidah) tapi naqisul ’amal (kering di amal)? Apakah manusia-manusia itu tidak sadar kalau publik sedang menonton bagaimana para aktivis dakwah berakhlak di panggung umum? Apakah manusia-manusia seperti ini pikir sesudah semua kedangkalan ini masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama sebagaimana Fir’aun dan Iblis ditempatkan dalam neraka yang mendidih?”
”Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang aktivis yang menyimpan gambar lawan jenis tanpa alasan yang benar atau merayu kader lain dalam aktifitas da’wah dengan rayuan gombal atau istilah serta panggilan-panggilan atau bahasa-bahasa gaul yang mengeraskan hati? Akankah hanya mengandalkan penghormatan awam karena status sebagai ‘orang penting’ atau aktivis, lalu menyindir dosa dan maksiat atas orang di luar sana yang semakin tersudut oleh retorika yang menyihir, padahal potret manusia yang berretorika itu sangat menyedihkan? Bila kejadian-kejadian ini terjadi di mana-mana dan dikerjakan oleh banyak orang, lalu siapa sesungguhnya manusia-manusia ini?”
Hanya sekitar 2 tahun memang. Tapi begitulah realita menyuguhkan fenomena. Fenomena yang sangat tragis dan membuat banyak orang bertanya. Bisa jadi hanya menambah tumpukkan beban umat. Hasilnya sedikit, bahkan boleh jadi tak cukup hitungan: hitungan kuantitas dan kualitas kader. Kader atau generasi yang totalitas, sebagai pewaris untuk kemenangan islam di masa depan. Sedikit agenda gerakan yang diperankan. Untuk kolom kebaikan semuanya minimalis, tapi pada kolom keburukan semuanya surplus. Bahkan sangat tragis. Dari jumlah kader, kapasitasnya sampai ke peran-peran keorganisasiannya.
Terlalu bangga bahkan bersyahwat mengejar agenda turunan (politis), tapi tidak bersyahwat untuk mewariskan peran regenerasi. Agenda politis masih menjadi ’fokus’, tapi pembangunan basis pengusung gerakan belum menjadi agenda yang dipilih. Kampus sebagai sarana rekruitasi tak pernah disapa hanya karena alasan ’itu kerjaan orang-orang kecil dan teknis, kita sudah punya amanah yang lebih besar dan strategis’. Betapa gersang dan kerdilnya pikiran ini. Berperan diukur dan dihargai berdasarkan jabatan dan kedudukan, bukan keikhlasan, totalitas dan kemenyeluruhan. Realita di sekitar hanya ditonton. Bahkan internalisasi ide, nilai dan kerangka-kerangka umum gerakan menjadi enggan. Bukankah keberhasilan mesti dilihat dari seberapa manusia yang ikut terlibat mengusung dakwah dan menikmati nilai-nilainya? Ya Allah, ampuni kami, generasi yang tak bertanggungjawab dalam menunaikan amanah dakwah ini!
Kini waktu telah berada pada titik akhir penghujungnya. Evaluasi diri yang kaku beramal itupun dimulai. Ternyata amanah besar belum ditunaikan dengan maksimal. Ide dan harapan-harapan idealis belum terejahwantahkan. Hidup di ruang yang penuh dengan interaksi dan intrik memang membawa kepenatan. Berjibaku dalam lumbung kelimpahan informasi memang bisa menghambat firasat untuk berinspirasi. Sebagaimana hidup dalam keramaian ujian dan dinamika dunia memang mampu menepis kearifan dan ketulusan jiwa. Tetapi, tentu jiwa kita tetap berharap agar dengan banyaknya interaksi, semoga semuanya mudah untuk saling memahami. Hidup di kelimpahan informasi, semoga bisa memunculkan inisiatif untuk mengambil banyak inspirasi. Hidup dalam keramaian pesan, semoga mampu menambah energi dalam cita mengasah kearifan. Harapannya; dengan banyaknya peristiwa dan kejadian, bisa menambah ruang pembelajaran. Sebagaimana juga dengan banyaknya momentum yang berada di depan mata, bisa ditindaklanjuti
sebagai penambah energi dalam menembus impian besar merubah realita. Dan dengan banyaknya refleksi seperti ini, bisa mengetahui tentang banyak kelemahan dan kekurangan untuk diatur dan dirumuskan kembali dengan rapih kemudian ditata ulang dan diteruskan menjadi aksi nyata dalam realita. Yang pasti, jika perjuangan itu adalah jalan yang panjang, harapannya jiwa dan raga kita tetap dan terus bergerak di dalamnya, hingga menemukan penghujung kehidupan termuliya yaitu kesyahidan. Jika berjuang itu mesti berkehidupan dengan beban yang berat, harapannya jiwa dan raga kita terus menyatu bersama dalam mengusungnya. Jika yang mendukung perjuangan ini sedikit, maka harapannya jiwa dan raga kita masuk di dalam komunitas yang sedikit itu.
Wahai sejarah, ’harapan itu selalu ada’. Minimal kader militan untuk masa depan islam dan negeri ini segera hadir. Minimal gagasan tersisa yang belum dieksekusi itu mengalir kembali. Minimal mimpi-mimpi indah dalam bentuk catatan-catatan sederhana bisa menjadi penyemangat, referensi tambahan bagi langkah tegap dalam menyelesikan amanah Allah yang mesti ditunaikan. Tentu, tanpa bermaksud minimalis, tapi itu saja yang baru dicoba. Walaupun banyak yang mesti ditunaikan. Tapi, beginilah kondisinya: kami aktivis muda yang perlu belajar terus dan mesti terus belajar. Evaluasi amanahpun diakhiri. Sedih, pilu, risau, bangga, dan semua rasa dinikmati. Perjuangan tak berhenti di sini, tapi amanah ini berakhir di sini. Begitulah sedikit kenangan yang bisa diungkap; di ruang besar rumah juang ini.
Selanjutnya, semoga semuanya bisa memaafkan; ’selamat berpisah sahabat, teman dan saudara-saudaraku: kader-kader KAMMI dan pengurus kepengurusan KAMDA Bandung 2006-2008! Selamat berjuang sahabat, teman dan saudara-saudaraku: kader-kader KAMMI dan pengurus baru kepengurusan 2008-2010 dan seterusnya!’
’Ya Allah,
Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu,
telah berjumpa dalam taat kepada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu,
telah berpadu dalam membela syari’at-Mu.
Kokohkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati ini dengan nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu.
Nyalakanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah dia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Ya Allah,
kabulkanlah!
Ya Allah,
sampaikanlah kesejahteraan pada junjungan kami Muhamad SAW., keluarga, sahabat-sahabatnya,
dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan!
Ya Allah,
tunjukilah kami ke jalan yang lurus,
dan berilah kami anugrah keistikomahan pada jalan-Mu yang lurus itu!’ []




